Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label humor. Tampilkan semua postingan
Baru Punya Handphone (HUMOR)

Baru Punya Handphone (HUMOR)

Baru Punya Handphone

Ucup dan Acep baru punya handphone.

Ucup : "Cep ngapain lho megangin pager rumah?"
Acep : "Ini Cup, gw lagi mau isi pulsa..."
Ucup : "Eh, ape hubunganye nempel di pager ama isi pulsa Cep? Telpon operator aje. Susah amat sih."
Acep : "Itu die masalahnye,dari tadi gue disuruh operator tekan pager, nah gue sudah tekan pager berkali-kali kok kagak bisa juga. Ampe bonyok neh jempol gue."
Ucup : "Gue lebih parah coy."
Asep : "Emang elu kenape?"
Ucup : "Gue malah disuruh mencet bintang."
Disuruh Menyeberang Karena Penting
Suatu ketika, ada sebuah sungaiyang lebar. Di satu sisi sungai tinggal kelinci, dan di sisi lainnya hidup seekor beruang.

Suatu hari, beruang itu duduk di atas tunggul, menikmati makan buah. Lalu ia mendengar ada yang berteriak padanya, yaitu kelinci.

"Hei! Hei, Teddy, menyeberanglah ke sini. Aku punya sesuatu yang mau kutunjukkan padamu!"

"Jangan sekarang! Aku sedang makan."

"Oh, ayolah!" kata kelinci. "Ini benar-benar penting."

"Tidak mungkin."

"Ayolah. Ini mendesak."

Jadi beruang memutuskan untuk pergi menyeberangi sungai yang lebar itu. Dia memerlukan waktu berjam-jam untuk bisa menyeberangi sungai itu. Dia hampir tenggelam. Dan ketika ia akhirnya sampai di seberang dia mengerang dan terengah-engah, dan berbicara kepada kelinci,

"Nah, kelinci," dia terengah. "Apa yang ingin kamu beritahukan kepadaku?"

"Hei, Teddy," kelinci itu berkata, "lihatlah betapa banyaknya buah yang di seberang sungai."

Kisah Tentang Seorang Pria yang Sempurna
Seorang laki-laki berjalan keluar ke jalan dan menyetop taksi. Dia masuk ke taksi, dan sopir taksi mengatakan, "Anda memiliki waktu yang sempurna. Persis seperti Frank."

Penumpang: "Frank Siapa?"

Sopir taksi: "Frank Feldman. Dia seorang pria yang melakukan segalanya dengan benar sepanjang waktu. Seperti saya ada ketika Anda membutuhkan taksi, hal-hal terjadi seperti itu untuk Frank Feldman setiap saat..."

Penumpang: "Selalu ada langit di atas semua langit."

Sopir taksi: "Tidak... Frank Feldman adalah seorang atlet hebat. Dia bisa saja memenangkan Grand-Slam di tenis. Dia bisa main golf dengan profesional. Dia menyanyi seperti bariton opera dan menari seperti bintang Broadway dan Anda harus telah mendengar dia bermain piano. Dia seorang pria luar biasa."

Penumpang: "Sepertinya ia sangat istimewa."

Sopir taksi: "Ada lagi... Dia punya memori seperti komputer. Dia ingat ulang tahun semua orang. Dia tahu segalanya. Dia bisa memperbaiki apa-apa. Tidak seperti aku, ketika memperbaiki sekering rumah, satu RT mati semua. Tapi Frank Feldman, ia bisa melakukan segalanya dengan benar."

Penumpang: "Wow, seorang pria yang hebat."

Sopir taksi: "Dia selalu tahu cara tercepat untuk menyetir dan menghindari kemacetan lalu lintas. Tidak seperti saya, saya terlalu sering terjebak di dalam kemacetan. Tapi Frank, dia tidak pernah melakukan kesalahan, dan dia benar-benar tahu bagaimana memperlakukan wanita. Dia tidak akan pernah berdebat meskipun dia yang tidak salah, dan pakaiannya selalu rapi, sepatunya disemir mengkilat - Dia adalah manusia sempurna. Dia tidak pernah melakukan kesalahan. Tidak ada yang bisa menandingi Frank Feldman."

Penumpang: "Seorang rekan yang menakjubkan. Bagaimana Anda bertemu dengannya?"

Sopir taksi: "Wah, saya tidak pernah benar-benar bertemu Frank, dia sudah meninggal. Aku menikahi jandanya..."

Menandai Tempat Yang banyak Ikan

Dua pemancing memutuskan untuk menyewa perahu di danau. Setelah memancing berjam-jam di berbagai tempat dan tidak ada satupun ikan yang tertangkap, mereka memutuskan untuk mencoba sekali lagi sebelum berhenti. Tiba-tiba, ikan mulai menggigit umpan dan mereka ternyata hanya punya waktu 20 menit.

"Hei, kita harus menandai tempat ini sehingga waktu berikutnya kita akan tahu di mana ikan berkumpul," kata salah seorang pemancing tersebut.

"Ide bagus," jawab orang kedua, mengambil sekaleng cat semprot dan membuat tanda X besar di lantai perahu.

"Kenapa kau melakukan itu?" temannya bertanya.

"Sekarang siapa yang menyewa perahu ini akan tahu di mana ikan-ikan itu berada."

Kunjungan Studi Banding Pejabat Swiss

Beberapa waktu yang lalu beberapa anggota delegasi dari Swiss mengunjungi Indonesia untuk studi banding dan belajar untuk membuat sebuah Kementerian Kelautan di Swiss.

Ketika mereka mengutarakan hal itu, beberapa pejabat menertawakan hal itu, karena Swiss tidak memiliki laut.

Delegasi Swiss pun menjawab, "Kami kan belajar dari Indonesia. Buktinya kalian memiliki Departemen Hukum dan Departemen Keuangan..."
Baca Selengkapnya: Baru Punya Handphone (HUMOR)
Humoria

Humoria

Kisah Tentang Seorang Pria yang Sempurna

Seorang laki-laki berjalan keluar ke jalan dan menyetop taksi. Dia masuk ke taksi, dan sopir taksi mengatakan, "Anda memiliki waktu yang sempurna. Persis seperti Frank."

Penumpang: "Frank Siapa?"

Sopir taksi: "Frank Feldman. Dia seorang pria yang melakukan segalanya dengan benar sepanjang waktu. Seperti saya ada ketika Anda membutuhkan taksi, hal-hal terjadi seperti itu untuk Frank Feldman setiap saat..."

Penumpang: "Selalu ada langit di atas semua langit."

Sopir taksi: "Tidak... Frank Feldman adalah seorang atlet hebat. Dia bisa saja memenangkan Grand-Slam di tenis. Dia bisa main golf dengan profesional. Dia menyanyi seperti bariton opera dan menari seperti bintang Broadway dan Anda harus telah mendengar dia bermain piano. Dia seorang pria luar biasa."

Penumpang: "Sepertinya ia sangat istimewa."

Sopir taksi: "Ada lagi... Dia punya memori seperti komputer. Dia ingat ulang tahun semua orang. Dia tahu segalanya. Dia bisa memperbaiki apa-apa. Tidak seperti aku, ketika memperbaiki sekering rumah, satu RT mati semua. Tapi Frank Feldman, ia bisa melakukan segalanya dengan benar."

Penumpang: "Wow, seorang pria yang hebat."

Sopir taksi: "Dia selalu tahu cara tercepat untuk menyetir dan menghindari kemacetan lalu lintas. Tidak seperti saya, saya terlalu sering terjebak di dalam kemacetan. Tapi Frank, dia tidak pernah melakukan kesalahan, dan dia benar-benar tahu bagaimana memperlakukan wanita. Dia tidak akan pernah berdebat meskipun dia yang tidak salah, dan pakaiannya selalu rapi, sepatunya disemir mengkilat - Dia adalah manusia sempurna. Dia tidak pernah melakukan kesalahan. Tidak ada yang bisa menandingi Frank Feldman."

Penumpang: "Seorang rekan yang menakjubkan. Bagaimana Anda bertemu dengannya?"

Sopir taksi: "Wah, saya tidak pernah benar-benar bertemu Frank, dia sudah meninggal. Aku menikahi jandanya..."

Menandai Tempat Yang banyak Ikan

Dua pemancing memutuskan untuk menyewa perahu di danau. Setelah memancing berjam-jam di berbagai tempat dan tidak ada satupun ikan yang tertangkap, mereka memutuskan untuk mencoba sekali lagi sebelum berhenti. Tiba-tiba, ikan mulai menggigit umpan dan mereka ternyata hanya punya waktu 20 menit.

"Hei, kita harus menandai tempat ini sehingga waktu berikutnya kita akan tahu di mana ikan berkumpul," kata salah seorang pemancing tersebut.

"Ide bagus," jawab orang kedua, mengambil sekaleng cat semprot dan membuat tanda X besar di lantai perahu.

"Kenapa kau melakukan itu?" temannya bertanya.

"Sekarang siapa yang menyewa perahu ini akan tahu di mana ikan-ikan itu berada."

Kunjungan Studi Banding Pejabat Swiss

Beberapa waktu yang lalu beberapa anggota delegasi dari Swiss mengunjungi Indonesia untuk studi banding dan belajar untuk membuat sebuah Kementerian Kelautan di Swiss.

Ketika mereka mengutarakan hal itu, beberapa pejabat menertawakan hal itu, karena Swiss tidak memiliki laut.

Delegasi Swiss pun menjawab, "Kami kan belajar dari Indonesia. Buktinya kalian memiliki Departemen Hukum dan Departemen Keuangan..."

Cara Mencapai Kedamaian Batin

Dengan mengikuti saran sederhana dari Dr. Phil Show, aku akhirnya telah menemukan kedamaian batin.

Dr. Phil memproklamirkan cara untuk mencapai kedamaian batin adalah untuk menyelesaikan semua hal yang sudah Anda mulai.

Jadi saya melihat sekeliling rumah saya untuk melihat hal-hal yang saya mulai dan tidak selesai, dan, sebelum meninggalkan rumah pagi ini saya menghabiskan sebotol Susu segar, satu paket Oreo, satu teko kopi, sisa dari Cheesecake, beberapa biskuit asin dan sekotak Godiva Chocolates.

Dr Phil benar... Anda tidak tahu apa yang saya rasakan sekarang!

Berpose Alami

Saat itu hari wisuda dan Ibu mencoba mengambil foto anaknya dengan topi wisudanya, berpose dengan ayahnya.

"Mari kita coba untuk membuat tampilan ini alami," katanya. "Junior, taruh lenganmu di bahu ayahmu."

Sang ayah menjawab, "Jika ingin terlihat alami, mengapa tidak menyuruh dia meletakkan tangannya di dompetku?"
Baca Selengkapnya: Humoria
kelucuan Nasrudin #2

kelucuan Nasrudin #2

Berikut ini kumpulan cerita humor sufi bagian 2, dengan tokoh utama bernama Nasrudin. Hanya pengen berbagi, kali saja bisa tersenyum setelah membaca cerita ini. Senyum itu ibadah kawan, jadinya bisa dapat pahala kalo bikin orang lain tersenyum. Sumbernya ada di Prayoga Net. Saya hanya menjadi penyebar cerita ini. Semoga pengarang cerita dapat pahala dengan menebarkan senyum.

always peace

Salam

Sembunyi
Suatu malam seorang pencuri memasuki rumah Nasrudin. Kabetulan Nasrudin sedang melihatnya. Karena ia sedang sendirian aja, Nasrudin cepat-cepat bersembunyi di dalam peti. Sementara itu pencuri memulai aksi menggerayangi rumah.
Sekian lama kemudian, pencuri belum menemukan sesuatu yang berharga. Akhirnya ia membuka peti besar, dan memergoki Nasrudin yang bersembunyi.
“Aha!” kata si pencuri, “Apa yang sedang kau lakukan di sini, ha?”
“Aku malu, karena aku tidak memiliki apa-apa yang bisa kau ambil. Itulah sebabnya aku bersembunyi di sini.”

Periuk Beranak
Nasrudin meminjam periuk kepada tetangganya. Seminggu kemudian, ia mengembalikannya dengan menyertakan juga periuk kecil di sampingnya.
Tetangganya heran dan bertanya mengenai periuk kecil itu.
“Periukmu sedang hamil waktu kupinjam. Dua hari kemudian ia melahirkan bayinya dengan selamat.”
Tetangganya itu menerimanya dengan senang. Nasrudin pun pulang.
Beberapa hari kemudian, Nasrudin meminjam kembali periuk itu. Namun kali ini ia pura-pura lupa mengembalikannya. Sang tetangga mulai gusar, dan ia pun datang ke rumah Nasrudin,
Sambil terisak-isak, Nasrudin menyambut tamunya, “Oh, sungguh sebuah malapetaka. Takdir telah menentukan bahwa periukmu meninggal di rumahku. Dan sekarang telah kumakamkan.”
Sang tetangga menjadi marah, “Ayo kembalikan periukku. Jangan belagak bodoh. Mana ada periuk bisa meninggal dunia!”
“Tapi periuk yang bisa beranak, tentu bisa pula meninggal dunia,” kata Nasrudin, sambil menghentikan isaknya.
Bahasa Kurdi
Tetangga Nasrudin ingin belajar bahasa Kurdi. Maka ia minta diajari Nasrudin. Sebetulnya Nasrudin juga belum bisa bahasa Kurdi selain beberapa patah kata. Tapi karena tetangganya memaksa, ia pun akhirnya bersedia.
“Kita mulai dengan sop panas. Dalam bahasa Kurdi, itu namanya Aash.”
“Bagaimana dengan sop dingin ?”
“Hemm. Perlu diketahui bahwa orang Kurdi tidak pernah membiarkan sop jadi dingin. Jadi engkau tidak akan pernah mengatakan sop dingin dalam bahasa Kurdi.”
Bahasa Burung
Dalam pengembaraannya, Nasrudin singgah di ibukota. Di sana langsung timbul kabar burung bahwa Nasrudin telah menguasai bahasa burung-burung.
Raja sendiri akhirnya mendengar kabar itu. Maka dipanggillah Nasrudin ke istana.
Saat itu kebetulan ada seekor burung hantu yang sering berteriak di dekat istana. Bertanyalah raja pada Nasrudin, “Coba katakan, apa yang diucapkan burung hantu itu!”
“Ia mengatakan,” kata Nasrudin, “Jika raja tidak berhenti menyengsarakan rakyat, maka kerajaannya akan segera runtuh seperti sarangnya.”
Yang Mana Bagianku ??
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, Nasrudin dan seorang temannya merasa capai dan haus. Mereka mampir di sebuah warung kecil untuk minum. temannya mengusulkan membeli segelas susu dan membagi dua bagian yang sama.
Nasrudin setuju. Setelah mereka mendapatkan susu, temannya berkata, “Minumlah dulu bagianmu karena aku punya gula yang hanya cukup untuk satu orang saja. Dan aku akan memasukkan pada bagianku nanti kemudian meminumnya.”
“Mengapa tidak dimasukkan sekarang saja.” kata Nasrudin, “toh aku hanya akan minum bagianku yang separo.”
“Tidak bisa. Gulaku hanya cukup untuk memaniskan setengah gelas susu.” Nasrudin pergi ke pemilik warung lalu kembali ke temannya dengan membawa segenggam garam. Lalu berkata,”Aku membawa berita bagus untuk kita berdua. Aku meminum bagianku seperti kita sepakati bersama dan aku ingin mencampur susuku dengan segenggam garam ini !”
Perusuh Rakyat
Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar biasa di istana. Karena ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu istana.
Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.
“Menjauhlah engkau, hai mullah!” teriak pengawal.
“Mengapa ?” tanya Nasrudin.
“Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini sedang berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !”
“Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?”
“Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !”
“Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada di dalam sana ?” kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.
Tampak Seperti Wujudmu
Nasrudin sedang merenungi harmoni alam, dan kebesaran Penciptanya.
“Oh kasih yang agung.Seluruh diriku terselimuti oleh-Mu.Segala yang tampak oleh mataku.Tampak seperti wujud-Mu.”
Seorang tukang melucu menggodanya, “Bagaimana jika ada orang jelek dan dungu lewat di depan matamu ?”
Nasrudin berbalik, menatapnya, dan menjawab dengan konsisten: “Tampak seperti wujudmu.”
Baca Selengkapnya: kelucuan Nasrudin #2
kelucuan Nasrudin #3

kelucuan Nasrudin #3

Berikut ini kumpulan cerita humor sufi bagian 3, dengan tokoh utama bernama Nasrudin. Hanya pengen berbagi, kali saja bisa tersenyum setelah membaca cerita ini. Senyum itu ibadah kawan, jadinya bisa dapat pahala kalo bikin orang lain tersenyum. Sumbernya ada di Prayoga Net. Saya hanya menjadi penyebar cerita ini. Semoga pengarang cerita dapat pahala dengan menebarkan senyum.

Saya, Dani always peace

Salam
Nasruddin Memanah
Sesekali, Timur Lenk ingin juga mempermalukan Nasrudin. Karena Nasrudin cerdas dan cerdik, ia tidak mau mengambil resiko beradu pikiran. Maka diundangnya Nasrudin ke tengah-tengah prajuritnya. Dunia prajurit, dunia otot dan ketangkasan.
“Ayo Nasrudin,” kata Timur Lenk, “Di hadapan para prajuritku, tunjukkanlah kemampuanmu memanah. Panahlah sekali saja. Kalau panahmu dapat mengenai sasaran, hadiah besar menantimu. Tapi kalau gagal, engkau harus merangkak jalan pulang ke rumahmu.”
Nasrudin terpaksa mengambil busur dan tempat anak panah. Dengan memantapkan hati, ia membidik sasaran, dan mulai memanah. Panah melesat jauh dari sasaran. Segera setelah itu, Nasrudin berteriak, “Demikianlah gaya tuan wazir memanah.”
Segera dicabutnya sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Masih juga panah meleset dari sasaran. Nasrudin berteriak lagi, “Demikianlah gaya tuan walikota memanah.”
Nasrudin segera mencabut sebuah anak panah lagi. Ia membidik dan memanah lagi. Kebetulan kali ini panahnya menyentuh sasaran. Nasrudin pun berteriak lagi, “Dan yang ini adalah gaya Nasrudin memanah. Untuk itu kita tunggu hadiah dari Paduka Raja.”
Sambil menahan tawa, Timur Lenk menyerahkan hadiah Nasrudin.

Nasruddin Memungut Pajak
Pada masa Timur Lenk, infrastruktur rusak, sehingga hasil pertanian dan pekerjaan lain sangat menurun. Pajak yang diberikan daerah-daerah tidak memuaskan bagi Timur Lenk. Maka para pejabat pemungut pajak dikumpulkan.
Mereka datang dengan membawa buku-buku laporan. Namun Timur Lenk yang marah merobek-robek buku-buku itu satu per satu, dan menyuruh para pejabat yang malang itu memakannya. Kemudian mereka dipecat dan diusir keluar.
Timur Lenk memerintahkan Nasrudin yang telah dipercayanya untuk menggantikan para pemungut pajak untuk menghitungkan pajak yang lebih besar. Nasrudin mencoba mengelak, tetapi akhirnya terpaksa ia menggantikan tugas para pemungut pajak. Namun, pajak yang diambil tetap kecil dan tidak memuaskan Timur Lenk. Maka Nasrudin pun dipanggil.
Nasrudin datang menghadap Timur Lenk. Ia membawa roti hangat.
“Kau hendak menyuapku dengan roti celaka itu, Nasrudin ?” bentak Timur Lenk. “Laporan keuangan saya catat pada roti ini, Paduka,” jawab Nasrudin dengan gaya pejabat.
“Kau berpura-pura gila lagi, Nasrudin ?” Timur Lenk lebih marah lagi.
Nasrudin menjawab takzim, “Paduka, usiaku sudah cukup lanjut. Aku tidak akan kuat makan kertas-kertas laporan itu. Jadi semuanya aku indahkan pada roti hangat ini.”
Timur Lenk Di Dunia
Timur Lenk masih meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.
“Nasrudin! Kalau setiap benda yang ada di dunia ini ada harganya, berapakah hargaku ?”
Kali ini Nasrudin menjawab sekenanya, tanpa banyak berpikir.
“Saya taksir, sekitar 100 dinar saja”
Timur Lenk membentak Nasrudin, “Keterlaluan! Apa kau tahu bahwa ikat pinggangku saja harganya sudah 100 dinar.”
“Tepat sekali,” kata Nasrudin. “Memang yang saya nilai dari Anda hanya sebatas ikat pinggang itu saja.”
Timur Lenk Di Akherat
Timur Lenk meneruskan perbincangan dengan Nasrudin soal kekuasaannya.
“Nasrudin! Menurutmu, di manakah tempatku di akhirat, menurut kepercayaanmu ? Apakah aku ditempatkan bersama orang-orang yang mulia atau yang hina ?”
Bukan Nasrudin kalau ia tak dapat menjawab pertanyaan ‘semudah’ ini.
“Raja penakluk seperti Anda,” jawab Nasrudin, “Insya Allah akan ditempatkan bersama raja-raja dan tokoh-tokoh yang telah menghiasi sejarah.”
Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. “Betulkah itu, Nasrudin ?”
“Tentu,” kata Nasrudin dengan mantap. “Saya yakin Anda akan ditempatkan bersama Fir’aun dari Mesir, raja Namrudz dari Babilon, kaisar Nero dari Romawi, dan juga Jenghis Khan.”
Entah mengapa, Timur Lenk masih juga gembira mendengar jawaban itu.
Orientasi pada Baju
Nasrudin diundang berburu, tetapi hanya dipinjami kuda yang lamban. Tidak lama, hujan turun deras. Semua kuda dipacu kembali ke rumah. Nasrudin melepas bajunya, melipat, dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah.
Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda mereka lebih cepat.
“Itu berkat kuda yang kau pinjamkan padaku,” ujar Nasrudin ringan.
Keesokan harinya, cuaca masih mendung. Nasrudin dipinjami kuda yang cepat, sementara tuan rumah menunggangi kuda yang lamban. Tak lama kemudian hujan kembali turun deras. Kuda tuan rumah berjalan lambat, sehingga tuan rumah lebih basah lagi.
Sementara itu, Nasrudin melakukan hal yang sama dengan hari sebelumnya. Sampai rumah, Nasrudin tetap kering.
“Ini semua salahmu!” teriak tuan rumah, “Kamu membiarkan aku mengendarai kuda brengsek itu!”
“Masalahnya, kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju.”
Teori Kebutuhan
Nasrudin berbincang-bincang dengan hakim kota. Hakim kota, seperti umumnya cendekiawan masa itu, sering berpikir hanya dari satu sisi saja. Hakim memulai,
“Seandainya saja, setiap orang mau mematuhi hukum dan etika, …”
Nasrudin menukas, “Bukan manusia yang harus mematuhi hukum, tetapi justru hukum lah yang harus disesuaikan dengan kemanusiaan.”
Hakim mencoba bertaktik, “Tapi coba kita lihat cendekiawan seperti Anda. Kalau Anda memiliki pilihan: kekayaan atau kebijaksanaan, mana yang akan dipilih?”
Nasrudin menjawab seketika, “Tentu, saya memilih kekayaan.”
Hakim membalas sinis, “Memalukan. Anda adalah cendekiawan yang diakui masyarakat. Dan Anda memilih kekayaan daripada kebijaksanaan?”
Nasrudin balik bertanya, “Kalau pilihan Anda sendiri?”
Hakim menjawab tegas, “Tentu, saya memilih kebijaksanaan.”
Dan Nasrudin menutup, “Terbukti, semua orang memilih untuk memperoleh apa yang belum dimilikinya.”
Yang Benar-benar Benar
Nasrudin sedang menjadi hakim di pengadilan kota. Mula-mula ia mendengarkan dakwaan yang berapi-api dengan fakta yang tak tersangkalkan dari jaksa. Setelah jaksa selesai dengan dakwaannya, Nasrudin berkomentar:
“Aku rasa engkau benar.”
Petugas majelis membujuk Nasrudin, mengingatkan bahwa terdakwa belum membela diri. Terdakwa diwakili oleh pengacara yang pandai mengolah logika, sehingga Nasrudin kembali terpikat. Setelah pengacara selesai, Nasrudin kembali berkomentar:
“Aku rasa engkau benar.”
Petugas mengingatkan Nasrudin bahwa tidak mungkin jaksa betul dan sekaligus pengacara juga betul. Harus ada salah satu yang salah !
Nasrudin menatapnya lesu, dan kemudian berkomentar:
“Aku rasa engkau benar.”
Baca Selengkapnya: kelucuan Nasrudin #3
kelucuan Nasrudin #1

kelucuan Nasrudin #1

Berikut ini kumpulan cerita humor sufi bagian 1, dengan tokoh utama bernama Nasrudin. Hanya pengen berbagi, kali saja bisa tersenyum setelah membaca cerita ini. Senyum itu ibadah kawan, jadinya bisa dapat pahala kalo bikin orang lain tersenyum. Sumbernya ada di Prayoga Net. Saya hanya menjadi penyebar cerita ini. Semoga pengarang cerita dapat pahala dengan menebarkan senyum.

saya dani

Salam
Pada Sebuah Kapal
Nasrudin berlayar dengan kapal besar. Cuaca cerah menyegarkan, tetapi Nasrudin selalu mengingatkan orang akan bahaya cuaca buruk. Orang-orang tak mengindahkannya. Tapi kemudian cuaca benar-benar menjadi buruk, badai besar menghadang, dan kapal terombang ambing nyaris tenggelam. Para penumpang mulai berlutut, berdoa, dan berteriak-teriak minta tolong.
Mereka berdoa dan berjanji untuk berbuat sebanyak mungkin kebajikan jika mereka selamat.
“Teman-teman!” teriak Nasrudin. “Jangan boros dengan janji-janji indah! Aku melihat daratan!”

Umur Nasruddin
“Berapa umurmu, Nasrudin ?”
“Empat puluh tahun.”
“Tapi beberapa tahun yang lalu, kau menyebut angka yang sama.”
“Aku konsisten.”
Belajar Kebijaksanaan
Seorang darwis ingin belajar tentang kebijaksanaan hidup dari Nasrudin.
Nasrudin bersedia, dengan catatan bahwa kebijaksanaan hanya bisa dipelajari dengan praktek. Darwis itu pun bersedia menemani Nasrudin dan melihat perilakunya.
Malam itu Nasrudin menggosok kayu membuat api. Api kecil itu ditiup-tiupnya. “Mengapa api itu kau tiup?” tanya sang darwis. “Agar lebih panas dan lebih besar apinya,” jawab Nasrudin.
Setelah api besar, Nasrudin memasak sop. Sop menjadi panas. Nasrudin menuangkannya ke dalam dua mangkok. Ia mengambil mangkoknya, kemudian meniup-niup sopnya.
“Mengapa sop itu kau tiup?” tanya sang darwis. “Agar lebih dingin dan enak dimakan,” jawab Nasrudin.
“Ah, aku rasa aku tidak jadi belajar darimu,” ketus si darwis, “Engkau tidak bisa konsisten dengan pengetahuanmu.”
Ah, konsistensi.
Yang Tersulit
Salah seorang murid Nasrudin di sekolah bertanya, “Manakah keberhasilan yang paling besar: orang yang bisa menundukkan sebuah kerajaan, orang yang bisa tetapi tidak mau, atau orang yang mencegah orang lain melakukan hal itu ?”
“Nampaknya ada tugas yang lebih sulit daripada ketiganya,” kata Nasruddin.
“Apa itu?”
“Mencoba mengajar engkau untuk melihat segala sesuatu sebagaimana adanya.”
Penyelundup
Ada kabar angin bahwa Mullah Nasrudin berprofesi juga sebagai penyelundup.
Maka setiap melewati batas wilayah, penjaga gerbang menggeledah jubahnya yang berlapis-lapis dengan teliti.
Tetapi tidak ada hal yang mencurigakan yang ditemukan. Untuk mengajar, Mullah Nasrudin memang sering harus melintasi batas wilayah.
Suatu malam, salah seorang penjaga mendatangi rumahnya. “Aku tahu, Mullah, engkau penyelundup. Tapi aku menyerah, karena tidak pernah bisa menemukan barang selundupanmu. Sekarang, jawablah penasaranku: apa yang engkau selundupkan ?”
“Jubah,” kata Nasrudin, serius.
Terburu – Buru
Keledai Nasrudin jatuh sakit. Maka ia meminjam seekor kuda kepada tetangganya. Kuda itu besar dan kuat serta kencang larinya. Begitu Nasrudin menaikinya, ia langsung melesat secepat kilat, sementara Nasrudin berpegangan di atasnya, ketakutan.
Nasrudin mencoba membelokkan arah kuda. Tapi sia-sia. Kuda itu lari lebih kencang lagi.
Beberapa teman Nasrudin sedang bekerja di ladang ketika melihat Nasrudin melaju kencang di atas kuda. Mengira sedang ada sesuatu yang penting, mereka berteriak,”Ada apa Nasrudin ? Ke mana engkau ? Mengapa terburu-buru ?”
Nasrudin balas berteriak, “Saya tidak tahu ! Binatang ini tidak mengatakannya kepadaku !”
Tampang Itu Perlu
Nasrudin hampir selalu miskin. Ia tidak mengeluh, tapi suatu hari istrinyalah yang mengeluh.
“Tapi aku mengabdi kepada Allah saja,” kata Nasrudin.
“Kalau begitu, mintalah upah kepada Allah,” kata istrinya.
Nasrudin langsung ke pekarangan, bersujud, dan berteriak keras-keras, “Ya Allah, berilah hamba upah seratus keping perak!” berulang-ulang.
Tetangganya ingin mempermainkan Nasrudin. Ia melemparkan seratus keping perak ke kepala Nasrudin. Tapi ia terkejut waktu Nasrudin membawa lari uang itu ke dalam rumah dengan gembira, sambil berteriak “Hai, aku ternyata memang wali Allah. Ini upahku dari Allah.”
Sang tetangga menyerbu rumah Nasrudin, meminta kembali uang yang baru dilemparkannya. Nasrudin menjawab “Aku memohon kepada Allah, dan uang yang jatuh itu pasti jawaban dari Allah.”
Tetangganya marah. Ia mengajak Nasrudin menghadap hakim. Nasrudin berkelit, “Aku tidak pantas ke pengadilan dalam keadaan begini. Aku tidak punya kuda dan pakaian bagus. Pasti hakim berprasangka buruk pada orang miskin.”
Sang tetangga meminjamkan jubah dan kuda.Tidak lama kemudian, mereka menghadap hakim. Tetangga Nasrudin segera mengadukan halnya pada hakim.
“Bagaimana pembelaanmu?” tanya hakim pada Nasrudin. “Tetangga saya ini gila, Tuan,” kata Nasrudin.
“Apa buktinya?” tanya hakim.
“Tuan Hakim bisa memeriksanya langsung. Ia pikir segala yang ada di dunia ini miliknya. Coba tanyakan misalnya tentang jubah saya dan kuda saya, tentu semua diakui sebagai miliknya. Apalagi pula uang saya.”
Dengan kaget, sang tetangga berteriak, “Tetapi itu semua memang milikku!”
Bagi sang hakim, bukti-bukti sudah cukup. Perkara putus.
Baca Selengkapnya: kelucuan Nasrudin #1
Banting pintu yang terganjal

Banting pintu yang terganjal

Pada Minggu sore yang cerah, dua orang pemuda RT melakukan kunjungan dari pintu ke pintu untuk pengumpulan dana bantuan kemanusiaan. Ketika mereka mengetuk satu pintu, dan melihat bahwa wanita yang membuka pintu tidak senang melihat mereka.

Dia mengatakan kepada mereka dengan tegas bahwa ia tidak ingin membantu apa-apa, dan sebelum mereka bisa berkata apa-apa lagi, dia membanting pintu di depan mereka.

Yang mengejutkan, pintu tidak menutup, bahkan, ia kembali terbuka. Wanita itu mencoba lagi, benar-benar mendorong pintu itu, dan membanting lagi dengan hasil yang sama - pintu kembali terbuka.

Wanita itu yakin bahwa orang-orang muda itu mengganjal pintu dengan kaki mereka, dan kali ini ia mengumpulkan tenaga yang sangat besar untuk membanting pintu itu dengan sangat kuat. Saat itu, salah satu dari mereka berkata dengan tenang,

"Bu, sebelum Anda melakukannya lagi, Anda harus memindahkan kucing Anda terlebih dahulu."
Baca Selengkapnya: Banting pintu yang terganjal
Menggunakan Voice Mailbox

Menggunakan Voice Mailbox

Budi sangat bingung dengan pesan-pesan suara yang aneh yang dia peroleh pada voice mailbox di Handphone GSM-nya ketika habis pergi ke pedalaman yang tidak ada sinyal. Semua pesan suara yang dia dapat adalah suara teman-teman dan kolega bisnisnya dan semua pesannya sama, yaitu mereka semua berbicara dan berkata, "BEEP." Karena penasaran, dia mencoba mematikan HP-nya dan menggunakan nomor lain mencoba mendengarkan pesan mailboxnya sendiri yang sudah dia rekam sebelumnya untuk nomor HP yang dimatikan tersebut. Pesannya berbunyi, "Halo saya Budi, sedang pergi ke pedalaman, silahkan tinggalkan BEEP setelah pesan."
Baca Selengkapnya: Menggunakan Voice Mailbox